“Imunisasi merupakan cara yang terbaik yang dilakukan untuk menghindari berbagai virus dan bakteri, misalnya campak, polio, hepatitis B, TBC, dll”. Ini lah suatu pernyataan yang sering kita dengar dan baca dari berbagai promosi, baik melalui tenaga kesehatan (dokter, bidan), teman maupun media seperti media masa, atau brosur yang ada di klinik. Akan tetapi, pernahkah terlintas dalam benak anda apa tujuan sebenarnya dari imunisasi? Pernahkah anda mendengar bahwa imunisasi tidak baik? mengapa opini bahwa imunisasi tidak baik ini muncul? Berikut ini sedikit gambaran dan bukti nyata dari IMUNISASI….dan anda sendiri yang menentukan apa yang terbaik bagi bayi anda….Pengertian Imunisasi / vaksin
Secara umum vaksin merupakan bahan yang diyakini dapat melindungi dari penyakit atau memberikan kekebalan tubuh. Secara bahasa imunisasi berarti pengebalan terhadap penyakit. Kalau dalam istilah kesehatan, imunisasi diartikan pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Vaksin terbuat dari virus atau bakteri pathogen yang menyebabkan penyakit.
Pada dasarnya vaksinasi adalah upaya untuk merangsang daya tahan tubuh dengan memasukkan bibit penyakit yang dilemahkan dan diproses dengan bahan lain. Pada awalnya vaksinasi menggunakan bahan dasar berupa serum binatang, namun penggunaan bahan ini dilarang karena dampak buruknya tidak terbendung. Saat ini vaksin mengalami modernisasi dengan bahan dasar bakteri dan virus. Secara sederhana, Dr.Abdul Mu’nim, Apt seorang ahli farmasi dan tanaman obat UI, mengatakan vaksinasi adalah usaha untuk memancing daya tahan tubuh seseorang dengan bahan bakteri atau virus.
Dengan demikian vaksinasi atau imunisasi ini tidak ada kaitannya dengan peningkatan daya tahan tubuh, karena fungsinya hanya merangsang atau memancing sejauh mana daya tahan tubuh seseorang. Contohnya, untuk menguji daya tahan seseorang terhadap penyakit cacar dengan memasukkan vaksin dari bibit penyakit cacar.
Cara Pembuatan Vaksin
Sedikitnya ada empat cara membuat vaksin yaitu: pembuatan vaksin dari virus yang dimatikan (rujukan WHO saat ini), vaksin dari virus hidup yang dilemahkan, vaksin berupa virus hidup rekombinan menggunakan virus baculo dan vaksin DNA.
Pada pembuatan vaksin polio misalnya, dilakukan dengan mengembangbiakkan virus polio. Pengembangbiakan virus ini menggunakan sel vero (berasal dari ginjal kera) sebagai media.
Bahan Vaksin
Berbagai negatif dari vaksin ini ditimbulkan dari bahan berbahaya yang ada didalamnya seperti mikroorganisme yang dilemahkan atau dimatikan dan berbagai logam berat yang ada dalam vaksin.
Alumunium, digunakan dalam bentuk gel atau garam untuk mendorong produksi antibodi. Logam ini yang diyakini sebagai kemungkinan penyebab kejang, alizheimer, kerusakan otak dan dimensia (pikun). Menurut pemerhati vaksin di Australia bahan ini dapat meracuni darah,pernafasan, mengganggu system imun dan syaraf seumur hidup. Logam ini digunakan pada vaksin DPT, Dapt dan Hep-B
Benzotanium klorida, bahan pengawet yang belum dievaluasi untuk dikonsumsi manusia, terdapat pada vaksin antrax
Etilen glikol, bahan utama anti beku yang digunakan sebagai bahan pengawet, terdapat pada vaksin DaPT, polio, Hep-B.
Formaldehida/formalin, bahan yang bersifat karsinogenik ini menimbulkan kekhawatiran besar bila digunakan dalam tubuh. Bahan ini banyak digunakan untuk pembalseman, fungisida, insektisida dalam pembuatan bahan peledak. Bahan ini ditemukan di beberapa vaksin.
Gelatin, bahan yang dikenal sebagai pemicu timbulnya alergi. Terdapat pada vaksin cacar air dan MMR
Glutamat, digunakan untuk menstabilkan vaksin panas, cahaya dan kondisi lingkungan lainnya. Bahan ini dikenal menimbulkan reaksi buruk dan ditemukan pada vaksin varicela.
Neomicin, Antibiotik ini digunakan untuk mencegah timbulnya kuman. Bahan ini menimbulkan reaksi alergi, ditemukan pada vaksin MMR dan Polio
Fenol, Bahan yang berasal dari tar batubara ini digunakan dalam produk bahan pewarna, disinfektan, plastik, bahan pengawet. Bahan ini sangat beracun dan berbahaya.
Streptomicin, Antibiotik yang terkenal menimbulkan alergi dan ditemukan pada vaksin polio.
Timerosal, merupakan bahan pengawet yang mengandung 50% etil merkuri yang mempunyai sifat hamper sama dengan merkuri, sehingga berbahaya bagi tubuh.
Selain itu Pemerhati Vaksin Australia juga menemukan kandungan bahan lain dalam vaksin seperti:
Ammonium Sulfat, diduga dapat meracuni pencernaan, hati, syaraf dan system pernafasan.
Ampotericin B, sejenis obat yang digunakan untuk mencegah penyakit jamur. Efek sampingnya menyebabkan pembekuan darah, bentuk sel darah merah jadi tidak sempurna, masalah ginjal, kelesuan, demam dan alergi pada kulit.
Kasein, perekat yang kuat, sering digunakan untuk merekatkan label pada botol. Walaupun dihasilkan dari susu, namun didalam tubuh bahan ini dianggap sebagai protein asing yang beracun
Polysorbat 20 dan Polysorbat 80, bahan yang meracuni kulit dan organ genital.
Fakta imunisasi
Ada beberapa pendapat yang perlu dikaji dan diwaspadai karena bertentangan dengan kenyataan yang ada. Ada tiga hal:
1. Effektif melindungi manusia dari penyakit.
Kenyataan: Banyak penelitian medis mencatat kegagalan vaksinasi. Campak, gabag, gondong, polio, juga terjadi di pemukiman penduduk yang telah diimunisasi. Sebagai contoh, pada tahun 1989, wabah campak terjadi di sekolah yang punya tingkat vaksinasi lebih besar dari 98%. WHO (badan kesehatan dunia) juga menemukan bahwa seseorang yang telah divaksin campak, punya kemungkinan 15 kali lebih besar untuk terserang penyakit tersebut daripada yang tidak divaksin.
Imunisasi merupakan sebab utama penurunan jumlah penyakit. Kebanyakan penurunan penyakit terjadi sebelum dikenalkan imunisasi secara masal. Salah satu buktinya, penyakit-penyakit infeksi yang mematikan di AS dan Inggris mengalami penurunan rata-rata sebesar 80%, itu terjadi sebelum ada vaksinasi. Dari penelitian yang diterbitkan dalam The British Association for the Advancement of Science menemukan bahwa penyakit anak-anak mengalami penurunan sebesar 90% antara 1850 dan 1940, dan hal itu terjadi jauh sebelum program imunisasi diwajibkan.
2. Imunisasi benar-benar aman bagi anak-anak
Yang benar, imunisasi lebih besar bahayanya. Salah satu buktinya, pada tahun 1986, kongres AS membentuk The National Childhood Vaccine Injury Act, yang mengakui kenyataan bahwa vaksin dapat menyebabkan luka dan kematian.
3. Racun dan Najis? Tak Masuk Akal
Apa saja racun yang terkandung dalam vaksin? Beberapa racun dan bahan berbahaya yang biasa digunakan seperti Merkuri, Formaldehid, Aluminium, Fosfat, Sodium, Neomioin, Fenol, Aseton, dan sebagainya. Sedangkan yang dari hewan biasanya darah kuda dan babi, nanah dari cacar sapi, jaringan otak kelinci, jaringan ginjal anjing, sel ginjal kera, embrio ayam, serum anak sapi, dan sebagainya. Sungguh, terdapat banyak persamaan antara praktik penyihir zaman dulu dengan pengobatan modern. Keduanya menggunakan organ tubuh manusia dan hewan, kotoran dan racun (informasi ini diambil dari British National Anti-Vaccination league)
Dr. William Hay menyatakan, “Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatannya. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” ….. (Immunisation:The Reality behind the Myth)
Dari sekelumit mengenai vaksin ini kita dapat melihat bahwa tidak adanya manfaat yang bisa diambil dari imunisasi ini, bahkan sebaliknya memasukkan virus dan bahan beracun itu membahayakan dan mengancam kesehatan jasmani dan rohani baik dalam waktu cepat atau lambat.
Wallahu a’lam
Sumber:
Tabloid Bekam dan berbagai sumber
Read More..







