Selasa, 21 April 2009

Infeksi puerperalis

Infeksi nifas atau infeksi puerperalis merupakan infeksi bakteri yang berasal dari saluran reproduksi selama persalinan dan puerperium. Pada infeksi ini terjadi peningkatan suhu menjadi 380C yang terjadi 2-10 hari postpartum, melalui pengukuran suhu oral dengan tehnik standar sedikitnya 4 kali sehari.

Berikut ini beberapa situasi yang dianggap sebagai factor predisposisi terjadinya infeksi nifas:
1. Persalinan lama, khususnya pada yang ketubannya sudah pecah.pada. Dimana pada ketuban pecah ini kuman akan menjadi lebih mudah masuk ke dalam saluran reproduksi.
2. Pecah ketuban yang lama sebelum persalinan
3. Bermacam-macam pemeriksaan vagina selama persalinan, khususnya untuk yang ketubannya sudah pecah.
4. Tehnik akseptik yang tidak bagus
5. Tidak memperhatikan tehnik mencuci tangan
6. Manipulasi intra uteri (misalnya eksplorasi uteri, pengeluaran manual plasenta)
7. Trauma jaringan yang luas atau luka terbuka, seperti laserasi yang tidak diperbaiki
8. Hematoma
9. Hemoragi, Khususnya untuk yang kehilangan darah yang lebih dari 1000ml
10.Kelahiran dengan operasi, terutama untuk yang melahirkan dengan section cesarean
11.Retensi sisa plasenta atau membrane janin
12.Perawatan perineum tidak memadai
13.infeksi vagina/servik atau penyakit menular seksual yang tidak ditangani.

Tanda Gejala
Tanda gejala infeksi umumnya termasuk peningkatan suhu tubuh, malaise umum, nyeri dan lochea berbau tidak sedap. Peningkatan kecepatan nadi dapat terjadi, terutama pada infeksi yang berat.
Read More..

Senin, 20 April 2009

Mitos kehamilan

Mitos!!! Suatu omongan yang yang mungkin g’ akan pernah hilang dalam masyarakat. Mitos2 ini akan selalu ada bahkan akan berkembang mengikuti perkembangan jaman….

Dibawah ini akan dijabarkan beberapa mitos yang ada dalam kehamilan.

Bila denyut jantung janin kurang dari 140 BPM, bayinya laki-laki.

Salah. Denyut jantung bayi perempuan biasanya lebih cepat dari bayi laki-laki tetapi hal ini terjadi saat bayi telah dilahirkan. Tidak ada beda antara denyut jantung bayi laki-laki dan perempuan. Denyut jantung ini mempunyai kecepatannya bervariasi, hal ini tergantung dari usia janin. Untuk usia kehamilan sekitar 5 minggu, denyut jantung janin akan mendekati denyut jantung ibunya (80 – 85 BPM ). Denyut jantung ini akan bertambah cepat sampai minggu kesembilan, yaitu mencapai 170 sampai 200 BPM, lalu menurun pada pertengahan kehamilan sampai sekitar 120 - 160 BPM. Keadaan ini akan terjadi baik pada bayi laki2 ataupun bayi perempuan.

Kelebihan berat pada kandungan bagian depan berarti bayi perempuan; kelebihan berat di sekitar pinggul dan bokong berarti bayi laki-laki.

Salah. Bila wanita memiliki batang tubuh yang pendek, sang bayi tidak mempunyai ruang untuk tumbuh. Sedangkan batang tubuh yang panjang dapat memberi ruang untuk tumbuh kembangnya sang bayi dan dapat membuat perut ibu menonjol keluar.
Perut dengan kandungan yang melebar berarti bayi sedang pada posisi menyamping atau lintang sehingga ibu akan merasakan kelebihan berat di daerah pinggul.

Bila kandungan berat ke bawah berarti bayi laki-laki; bila ke atas berarti bayi perempuan.

Salah. Bila kandungan ke atas, bisa berarti ini merupakan kehamilan pertama atau tubuh ibu memang memiliki bentuk yang bagus. Otot perut cenderung lebih elastis pada setiap kehamilan. Jadi, bila kandungan bukan merupakan kandungan pertama, perut cenderung agak ke bawah.

Puting yang berwarna gelap berarti bayi laki-laki.

Salah. Perubahan warna pada puting tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin bayi. Perubahan warna tersebut disebabkan oleh meningkatnya progesteron dan melanocyte, hormon yang mengatur pigmentasi kulit.

Puting susu, bercak kelahiran, tahi lalat, atau tanda-tanda lain dapat menjadi lebih gelap warnanya selama kehamilan. Guratan juga akan muncul di sekitar bagian tengah perut. Biasanya juga akan muncul garis hitam dari pusar ke bagian pubis. Warna hitam ini akan hilang setelah ibu melahirkan.

Jangan menyusui bayi selama hamil, karena bayi di dalam kandungan memerlukan makanan.

Salah. Bila ibu sehat, menyusui selama kehamilan tidak membahayakan, baik bagi ibu, janin, maupun bayinya. Dokter akan melarang ibu menyusui bayinya selama kehamilan bila ibu mengalami kekurangan gizi, kekurangan berat badan, atau berisiko melahirkan prematur.

Tidak boleh memotong atau menjahit baju selama kehamilan atau anak akan lahir dengan bibir sumbing.

Salah. Bibir sumbing merupakan keadaan yang biasanya disebabkan karena obat-obatan yang diminum oleh ibu saat hamil, karena efek radiasi maupun factor genetic. Oleh karena itu penggunaan x-ray tidak dilakukan selama kehamilan kecuali atas indikasi tertentu.


Sering minum es saat hamil menyebabkan bayi besar dan akan sulit lahir.

Salah. Bayi dengan berat badan berlebih biasanya berhubungan dengan penyakit yang diderita oleh ibu seperti kencing manis atau diabetes melitus. Jadi mungkin es ini diminum oleh ibu hamil yang memang dengan riwayat penyakit kencing manis. Jadi bukan minum es lalu menyebabkan bayi besar karena air es akan dikeluarkan oleh tubuh sebagai keringat atau air seni.

Read More..

Kamis, 16 April 2009

PREMENSTRUAL SYNDROME

A. Pengertian Premenstrual Syndrome
Premenstrual syndrome adalah kombinasi gejala yang terjadi sebelum haid dan menghilang setelah haid keluar.

B. Gejala Premenstrual Syndrome
Gejala utama premenstrual syndrome meliputi:
1. Sakit kepala.
2. Letih.
3. Sakit pinggang.
4. Pembesaran dan sakit pada payudara.
5. Perasaan begah pada perut.

C. Pengobatan Premenstrual Syndrome
Tindakan yang dilakukan untuk menangani kasus premenstrual síndrome adalah menganjurkan perubahan diet selain menambah suplemen nutrisi, walaupun tidak secara khusus jenis nutrisinya apa.
Secara umum anjuran diet meliputi pembatasan gula, garam, daging, lemak hewani, alkohol, kopi dan rokok. Sedangkan yang perlu ditambah konsumsinya adalah jenis ikan, umggas, roti, kacang – kacangan, karbohidrat kompleks,sayuran daun hijau dan sereal (Krummel, 1996).
Kebanyakan klien premenstrual syndrome mengonsumsi susu dan produknya sebanyak 5 kali lipat dan 3 kali lipat untuk gula halus. Dengan mengonsumsi rendah lemak dan tinggi karbohidrat akan mengurangi pembengkakan payudara. Sedangkan konsumsi tinggi karbohidrat dan rendah protein dapat memperbaiki gangguan perasaan yang tidak nyaman. Hal ini berhubungan dengan pembentukan serotonin.
Read More..

DISMENORHEA

A. Pengertian Dismenorea

Dismenorea didefinisikan sebagai nyeri haid yang sedemikian hebatnya sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidupnya sehari-hari, untuk beberapa jam atau beberapa hari.12

Dismenorea dibagi menjadi dua berdasarkan ada-tidaknya kelainan ginekologis, yaitu:

  1. Dismenorea primer (esensial, intrinsik, idiopatik), yaitu dismenorea yang terjadi tanpa disertai adanya kelainan ginekologis.
  2. Dismenorea sekunder (ekstrinsik, aquaired), yaitu dismenorea yang berkaitan dengan kelainan ginekologis, baik kelainan anatomi maupun proses patologis pada pelvis.

Namun, pembagian di atas tidak seberapa tajam batasannya karena dismenorea yang pada mulanya didiagnosa sebagai dismenorea primer, kadang-kadang memperlihatkan kelainan ginekologis setelah diteliti lebih lanjut sehingga menjadi dismenorea sekunder.

Dismenorea primer timbul sejak menarche, biasanya pada tahun pertama atau kedua haid. Biasanya terjadi pada usia antara 15-25 tahun dan kemudian hilang pada usia akhir 20-an atau awal 30-an. Nyeri biasanya terjadi beberapa jam sebelum atau setelah periode menstruasi dan dapat berlanjut hingga 48-72 jam. Nyeri diuraikan sebagai mirip-kejang, spasmodik, terlokalisasi pada perut bagian bawah (area suprapubik) dan dapat menjalar ke paha dan pinggang bawah. Dapat disertai dengan mual, muntah, diare, nyeri kepala, nyeri pinggang bawah, iritabilitas, rasa lelah dan sebagainya.

Dismenorea sekunder biasanya terjadi beberapa tahun setelah menarche, dapat juga dimulai setelah usia 25 tahun. Nyeri dimulai sejak 1-2 minggu sebelum menstruasi dan terus berlangsung hingga beberapa hari setelah menstruasi. Pada dismenorea sekunder dijumpai kelainan ginekologis seperti endometriosis, adenomiosis, kista ovarium, mioma uteri, radang pelvis dan lain-lain. Dapat pula disertai dengan dispareuni, kemandulan, dan perdarahan yang abnormal.

Ditinjau dari berat-ringannya rasa nyeri, dismenorea dibagi menjadi:

  1. Dismenorea ringan, yaitu dismenorea dengan rasa nyeri yang berlangsung beberapa saat sehingga perlu istirahat sejenak untuk menghilangkan nyeri, tanpa disertai pemakaian obat.
  2. Dismenorea sedang, yaitu dismenorea yang memerlukan obat untuk menghilangkan rasa nyeri, tanpa perlu meninggalkan aktivitas sehari-hari.
  3. Dismenorea berat, yaitu dismenorea yang memerlukan istirahat sedemikian lama dengan akibat meninggalkan aktivitas sehari-hari selama 1 hari atau lebih.

Nyeri pada dismenorea primer diduga berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin.

Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher rahim), terutama jika saluran serviksnya sempit. Faktor lainnya yang bisa memperburuk dismenore adalah:

a. Rahim yang menghadap ke belakang (retroversi).

b. Kurang berolah raga.

c. Stres psikis atau stres sosial.

Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenorea primer.Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian saraf pada akhir kehamilan.

Perbedaan beratnya nyeri tergantung kepada kadar prostaglandin. Wanita yang mengalami dismenorea memiliki kadar prostaglandin yang 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami dismenorea.
Dismenorea sangat mirip dengan nyeri yang dirasakan oleh wanita hamil yang mendapatkan suntikan prostaglandin untuk merangsang persalinan.

B. Gejala Dismenorea

Dismenorea menyebabkan nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada. Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24jam dan setelah 2 hari akan menghilang.

Dismenorea juga sering disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.

C. Patofisiologi Dismenorea

Patofisiologi terjadinya dismenorea hingga kini masih belum jelas. Beberapa faktor diduga berperan dalam timbulnya dismenorea primer yaitu:

1. Faktor psikis dan konstitusi

Pada wanita yang secara emosional tidak stabil, dismenorea primer mudah terjadi. Faktor konstitusi erat kaitannya dengan faktor psikis, faktor ini dapat menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Seringkali segera setelah perkawinan dismenorea hilang, dan jarang sekali dismenorea menetap setelah melahirkan. Mungkin kedua keadaan tersebut (perkawinan dan melahirkan) membawa perubahan fisiologis pada genitalia maupun perubahan psikis. Disamping itu, psikoterapi terkadang mampu menghilangkan dismenorea primer.

2. Faktor obstruksi canalis cervicalis

Dismenorea sering terjadi pada wanita yang memiliki uterus posisi hiperantefleksi dengan stenosis pada canalis servicalis. Namun, hal ini tidak dianggap sebagai faktor yang penting dalam terjadinya dismenorea sebab banyak wanita yang mengalami dismenorea tanpa adanya stenosis canalis cervicalis ataupun uterus hiperantefleksi.

3. Faktor alergi

Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya hubungan antara dismenorea dengan urtikaria, migrain atau asma bronkiale.

4. Faktor neurologist

Uterus dipersyarafi oleh sistem syaraf otonom yang terdiri dari syaraf simpatis dan parasimpatis. Jeffcoate mengemukakan bahwa dismenorea ditimbulkan oleh ketidakseimbangan pengendalian sistem syaraf otonom terhadap miometrium. Pada keadaan ini terjadi perangsangan yang berlebihan oleh syaraf simpatis sehingga serabut-serabut sirkuler pada istmus dan ostium uteri internum menjadi hipertonik.

5. Vasopresin

Kadar vasopresin pada wanita dengan dismenorea primer sangat tinggi dibandingkan dengan wanita tanpa dismenorea. Pemberian vasopresin pada saat menstruasi menyebabkan meningkatnya kontraksi uterus, menurunnya aliran darah pada uterus, dan menimbulkan nyeri. Namun, hingga kini peranan pasti vasopresin dalam mekanisme terjadinya dismenorea masih belum jelas.

6. Prostaglandin

Penelitian pada beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa prostaglandin memegang peranan penting dalam terjadinya dismenorea. Prostaglandin yang berperan di sini yaitu prostaglandin E2 (PGE2) dan F2α (PGF2α). Pelepasan prostaglandin di induksi oleh adanya lisis endometrium dan rusaknya membran sel akibat pelepasan lisosim.

Prostaglandin menyebabkan peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut syaraf terminal rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan kadar prostaglandin dan peningkatan kepekaan miometrium menimbulkan tekanan intrauterus hingga 400 mmHg dan menyebabkan kontraksi miometrium yang hebat. Selanjutnya, kontraksi miometrium yang disebabkan oleh prostaglandin akan mengurangi aliran darah, sehingga terjadi iskemia sel-sel miometrium yang mengakibatkan timbulnya nyeri spasmodik. Jika prostaglandin dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka selain dismenorea timbul pula diare, mual, dan muntah.

7. Faktor hormonal

Umumnya kejang yang terjadi pada dismenorea primer dianggap terjadi akibat kontraksi uterus yang berlebihan. Dalam penelitian Novak dan Reynolds terhadap uterus kelinci didapatkan kesimpulan bahwa hormon estrogen merangsang kontraktilitas uterus, sedang hormon progesteron menghambatnya. Tetapi teori ini tidak menerangkan mengapa dismenorea tidak terjadi pada perdarahan disfungsi anovulatoar, yang biasanya disertai tingginya kadar estrogen tanpa adanya progesteron.

Kadar progesteron yang rendah menyebabkan terbentuknya PGF2α dalam jumlah banyak. Kadar progesteron yang rendah akibat regresi korpus luteum menyebabkan terganggunya stabilitas membran lisosom dan juga meningkatkan pelepasan enzim fosfolipase-A2 yang berperan sebagai katalisator dalam sintesis prostaglandin melalui perubahan fosfolipid menjadi asam archidonat. Peningkatan prostaglandin pada endometrium yang mengikuti turunnya kadar progesteron pada fase luteal akhir menyebabkan peningkatan tonus miometrium dan kontraksi uterus.

8. Leukotren

Helsa (1992), mengemukakan bahwa leukotren meningkatkan sensitivitas serabut nyeri pada uterus. Leukotren dalam jumlah besar ditemukan dalam uterus wanita dengan dismenorea primer yang tidak memberi respon terhadap pemberian antagonis prostaglandin.

Sama seperti dismenorea primer, penyebab dismenorea sekunder juga belum diketahui dengan pasti. Dismenorea sekunder diduga disebabkan oleh peningkatan prostaglandin yang merupakan mediator dalam reaksi radang yang jumlahnya akan tinggi pada keadaan adanya penyakit radang panggul seperti endometriosis, fibromioma, serta kelainan ginekologis lainnya. Namun, pemberian obat anti-inflamasi nonsteroid dan kontrasepsi oral untuk mengatasi dismenorea sekunder kurang memberi respon yang memuaskan.

D. Diagnosa Dismenorea

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.


E. Pengobatan Dismenorea

Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen, naproxen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi.

Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan:

1. Istirahat yang cukup.

2. Olah raga yang teratur (terutama berjalan).

3. Pemijatan.

4. Yoga.

5. Orgasme pada aktivitas seksual.

6. Kompres hangat di daerah perut.

Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi. Gejala juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara teratur.

Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan progesteron atau diberikan medroxiprogesteron.

Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akanmengurangi beratnya dismenore. Jika obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan (misalnya laparoskopi).Jika dismenore sangat berat bisa dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur dimana lapisan rahim dibakar atau diuapkan dengan alat pemanas.

Pengobatan untuk dismenore sekunder tergantung kepada penyebabnya.

sumber: www.fkunsri.wordpress.com 

Read More..

KTI...KTI...KTI

PUSING...
itu kata pertama yang muncul dalam benakku saat disebut kata KTI ato skripsi
pusing cari kasus
pusing cari judul
pusing cari bahan
pusing buatnya
pusing konsultasi
n' yang paling penting pusing ujiannya...

tapi aku rasa itu merupakan seni dari yang namanya akhir kuliah..
kayaknya kuliah g' punya cerita k-lo kita g ngalami yang namanya pusing buat KTI ato skripsi...

dengan adanya kepusingan dan kepenatan dalam buatnya kita bakalan ngrasain yang namanya deket ama temen, saling menyemangati, deket ma dosen (gara2 selah terus waktu konsul...), n' masih banyak lagi deh yang bakalan kalian dapetin

buat temen2 Q yang lagi menjalani ini
jangan ngrasa putus asa ama rintangn2 yang ada nikmatin aja deh semuanya..pasti diakhir nanti akan ada kesan dan cerita sendiri...
Read More..