Definisi
Perdarahan postpartum dapat dikategorikan menjadi dua yaitu perdarahan post partum primer (dimulai sejak kelahiran bayi sampai 24 jam postpartum) dan perdarahan postpartum sekunder ( dimulai setelah 24 jam sampai 6 minggu postpartum).
Perdarahan adalah peristiwa kehilangan darah secara tidak normal, rata-rata kehilangan darah ini 500-600cc. Perdarahan postpartum adalah sebab penting kematian ibu; ¼ dari kematian ibu disebabkan karena perdarahan postpartum. Di Indonesia kejadian perdarahan ini lebih sering daripada di luar negri.
Akan tetapi, kita tidak menunggu sampai terjadinya perdarahan 500cc (baik actual atau perkiraan) untuk menentukan bahwa seorang wanita sedang mengalami perdarahan dan mengambil tindakan. Tindakan awal dalam menanggulangi terjadinya perdarahan berlebih akan menghindari terjadinya perdarahan actual, yang mula-mula ditandai dengan syok.
Etiologi
1.Keadaan umum ibu yang lemah karena Anemia
Ibu yang mengalami anemia akan mengalami kekurangan O2 yang mengakibatkan sirkulasi darah yang mengalir di tubuh menjadi berkurang, lalu menyebabkan tenaga ibu berkurang dan selanjutnya kontraksi uterus pun juga mengalami kelemahan. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya perdarahan.
2.Multiparitas
Ibu yang sudah bekali-kali melahirkan anak. Keadaan uterusnya akan mengalami perubahan dalam hal keelastisitasan. Semakin elastic dan besar ukuran uterus tersebut maka kontraksi tersebut akan semakin lambat sehingga perdarahan pun terjadi.
3.Pasca tindakan oprasi
Seorang ibu yang telah mengalami oprasi di bagian alat kandungan akan menjadi lebih rawan mengalami perdarahan. Hal ini dikarenakan kemungkinan terbukanya kembali luka bekas oprasi sehingga perdarahan akan terjadi dari luka tersebut.
4.Distensi uterus berlebih
Keadaan distensi uterus ini dapat terjadi pada kehamilan kembar, kehamilan dengan hidramnion, dan janin yang besar. Sama halnya dengan multiparitas, ukuran uterus pada kehamilan ini akan lebih besar dan bisa menyebabkan lemahnya kontraksi.
5.Kelelahan ibu
Kelelahan ibu ini dapat terjadi pada persalinan
Prolong Labour atau partus lama
Yaitu partus >12 jam atau kala I fase laten >8 jam atau pada patograf melebihi garis waspada.
rNegleted labour atau partus terlantar
Partus terlantar ini adalah kelanjutan dari partus lama dimana ibu yang sudah mengalami partus lama dan tidak mendapatkan penanganan lebih lanjut, sehingga terjadilah partus terlantar
6.Trauma persalinan
Yaitu terjadinya robekan pada vagina dan perineum, servik, fornik, uterus.
7.Gangguan kontraksi
Terjadinya covalaire uteri atau timbulnya bercak-bercak pada uterus
Keadaan ini biasa terjadi pada kasus solusio plasenta.
ETIOLOGI PRIMER
1.Atonia Uteri
2.Retensio Plasenta
3.Plasenta Resisten
4.Trauma persalinan
ETIOLOGI SEKUNDER
1.Plasenta rest dan tertinggalnya selaput ketuban
2.Trauma persalinan, bekas SC
3.Infeksi: subinvolusi bekas implantasi plasenta
Retensio plasenta
Adalah tertahan atau belum lahirnya plasenta melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir atau dalam 1 jam setelah penatalaksanaan menunggu.
Jenis plasenta:
1.Plasenta Adhesiva : Plasenta yang menempel pada desidua endometrium.
2.Plasenta Inkreta : Plasenta yang vili-vilinya menembus sampai ke miometrium uterus
3.Plasenta Akreta : Plasenta yang vili-vilinya menembus desidua basalis sampai ke miometrium sedikit dibawah desidua
4.Plasenta Parkreta : Plasenta yang mencapai lapisan serosa dinding uterus atau peritoneum
5.Plasenta Inkarserata : Tertahannya plasenta dalam cavum uteri karena atonia uteri
Penanganan:
Bila dalam waktu 15 menit plasenta belum lahir lakukan lagi MAKIII (oksitosin 10 U dan PTT) selama 30 menit
Plasenta tetap tidak lahir dan tidak terjadi perdarahan segera RUJUK
Bila terjadi perdarahan:
Lakukan Manual Plasenta dan pasang cairan IV: NaCl 0,9 % atau RL
Indikasi: keadaan yang bisa dilakukan oleh seorang bidan apabila terjadi retensio plasenta atau plasenta adhesive
Kontraindikasi: keadaan yang harus segera dirujuk bila terjadi plasenta inkreta dan plasenta perkreta
Pasca tindakan manual plasenta pasien diberikan:
a.Ampisilin 1 gr IV
Selama 5 hari diberikan:
b.Ampisilin 500 mg PO/6 jam
c.Metronidazole 500 mg PO/8 jam
ATONIA UTERI
Adalah keadaan dimana uterus tidak mau berkontraksi dan perut teraba lembek. Perdarahan akan terjadi bila uterus atonik dan tidak mampu berkantraksi dengan baik setelah kelahiran. Faktor risikonya meliputi polihidramnion, kehamilan ganda, paritas tinggi, persalinan lama/induksi/augmentasi, kelahiran instrumental, hipertensi akibat kehamilan, abrubtio plasenta, plasenta previa, dan perdarahan postpartum sebelumnya.
Penanganan:
Berikan oksitosin 10 U
Lakukan masasse uterus
Apabila kandung kemih bisa di palpasi atau bisa teraba, yang menunjukkan bahwa kandung kemih isi maka lakukan kateterisasi dengan kateter karet steril.
Lakukan KBI (Kompresi Bimanual Interna) selama 5 menit.
Apabila perdarahan berhenti lanjutkan KBI selama 1-2 menit
Bila perdarahan tidak berhenti:
Ajarkan pada keluarga pasien untuk melakukan KBE (Kompresi Bimanual Eksterna) dan biarkan keluarga pasien yang melakukan.
Sementara keluarga melakukan KBE. Suntikkan Metergin 0,2 mg IM jangan diberikan pada ibu yang mengalami Hipertensi
Pasanga infuse RL 500 cc + 20U Oksitosin dengan tetesan cepat (gunakan jarum 16 atau 18)
Berikan cairan infuse ke II RL 500cc + 20U Oksitosin
Apabila Atonia masih terjadi lakukan KBI ulang
Berhasil: pantau keadaan ibu
Gagal: Lakukan rujukan dengan
Infuse tetap dipasang
Pantau TTV
Posisikan ibu miring
Jaga ibu tetap hangat
Kaki ditinggikan
Lakukan Kompresi aorta.
Read More..