Senin, 03 November 2008

Panorama Negri ku



Melihat negara ini aku sering iba… Iba karena begitu banya masalah yang tidak kunjung selesai. Masalah kesehatan, kemiskinan, pengngguran, narkoba, kemacetan, dan laen-laen.
Sering ku merasa kasihan terhadap anak-anak kecil yang putus sekolah. Anak-anak yang benar-benar ingin maju, ingin meraih cita-citanya,,, tetapi kembali lagi semua itu hanya angan-angan mereka saja. Karena kemiskinan telah merenggut harapan dan keinginan mereka untuk merasakan manisnya bangku sekolah,,indahnya hidup dengan bergelimang ilmu,,dan kebanggaan-kebanggaan akan prestasi……


Berbeda halnya dengan anak-anak yang terlahir dalam keadaan miskin dan orang tuanya tidak mampu menbiayai sekolah….Mereka telah terbiasa bekerja, terbiasa mencari uang untuk makan, terbiasa menjalani hidup yang serba kekurangan, dan terbiasa untuk bersenang-senang ketimbang mencari ilmu.


Kebiasaan mereka membuat mental mereka menjadi mental PEMINTA… hanya meminta belas kasihan orang di jalan tanpa mau berusaha untuk menciptakan karya yang bisa mendatangkan uang. Meminta di jalan telah menjadi kebiasaan mereka sejak kecil. Kebiasaan ini bila diteruskan akan menyebabkan mereka semakin malas untuk belajar. Dan keterpurukan negara ini akan menjadi parah karena generasinya hanyalah generasi PEMINTA.


Bangga ku kepada anak-anak miskin yang mau berusaha untuk merubah nasibnya. Meskipun dengan begitu susahnya perjuangan mereka untuk mencari uang demi sebuah PENDIDIKAN. Mereka mempergunakan waktu pagi mereka sebelum sekolah untuk mengumpulkan uang, lalu pergi ke sekolah dengan penuh semangat. Semangat yang menggebu-gebu untuk meraih cita-cita dan harapan untuk hidup lebih baik.
Pelajaran berlalu begitu cepat, raut muka sedih terpancar dari wajah mereka. Kesedihan karena kenikmatan mempelajari sesuatu terhenti oleh waktu. “Apakah besok aku akan menemui sang ilmu pengetahuan lagi?” pertanyaan ini yang selalu terbesit setiap kali pelajaran sekolah selesai. Pertanyaan yang terbesit karena kondisi kehidupan yang serba kekurangan.


Rutinitas mencari uang pun kembali menghampiri mereka, rutinitas menjemukan yang harus dihadapi anak sekolah..yang harusnya selesai sekolah mereka bisa belajar di rumah terhalang oleh kewajiban untuk mencari uang. Oh..cita-cita mengapa jalan untuk menggapaimu begitu sulit. Sampai aku harus membanting tulang untuk meraihmu…Belajar pun baru bisa mereka kerjakan saat malam tiba saat orang-orang terlelap dalam kenyamanan tidur mereka. “Aku harus bisa mengubah nasib ku sendiri, aku tidak ma uterus miskin…” ini lah kata-kata semangat yang selalu menumbuhkan keteguhan hati untuk untuk meraih perubahan. Begitu bangga aku pada anak-anak ini, bangga karena keteguhan hati dan semangat mereka. Semoga perubahan hidup terjadi pada mereka…….


Pemerintah harusnya memperhatikan nasib anak-anak bangsanya yang begitu gigih mencari ilmu. Sepertinya ini akan menjadi PR besar yang harus dipikirkan pemerintah, itu pun kalau pemerintah kita benar-benar perduli terhada negri ini bukan terhadap kantong mereka sendiri…. Sebal ku melihat berita di TV yang menyiarkan begitu banyak berita tentang korupsi. Korupsi…korupsi…korupsi apakah mereka tidak bisa kalau tidak memikirkan kepentingan sendiri. Apakah baju, perhiasan, mobil dan rumah pribadi lebih penting ketimbang kehidupan beratus juta masyarakat yang kelaparan???? Apakah mereka tidak berfikir apa yang mereka makan itu adalah hak dari jutaan orang???? Mungkin memang hati mereka yang korupsi itu telah menjadi batu dan mata mereka telah buta….sehingga tidak melihat penderitaan begitu banyak orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar