Jumat, 02 Januari 2009

maaf...

ini aku dapet dari temen Q di frindster
Suatu hari datanglah seorang pria dihadapan seorang bijak."Guru saya mempunyai banyak dosa, saya telah berbohong, memfitnah, dan melakukan maksiat yang lain. Bagaimana caranya agar Tuhan mau mengampuni dosa saya??"
Sang bijak berkata " ambilah bantal di tempat tidurku, bawalah ke alun-alun kota. Lalu ia bukalah bantal itu sampai bulu-bulu dan kapas di dalamnya keluar semua. Itu hukuman atas semua kata-kata jahat yang keluar dari mulutmu"
Setelah selesai melakukan yang diperintahkan, pria itu menghadap gurunya. " Saya telah selesai melakukan apa yang guru perintahkan, apakah sekarang saya sudah diampuni?"
Jawab sang bijak "Kamu belum mendapat pengampunan. Kamu baru menjalankan separuh tugasmu. Kini kembalilah ke alun-alun dan punguti kembali bulu dan kapas yang beterbangan tertiup angin"
Renungan : Melakukan kesalahan dan meminta maaf tak ubahnya seperti menancapkan paku ke tembok dan mencabutnya. Walaupun paku itu sudah dicabut, tapi tetap saja ada lubang yang ditinggalkan.
Tidak peduli seberapa banyak kita memohon maaf,
Kata-kata yang pernah keluar dari mulut kita akan menggema selamanya...
Perbuatan yang pernah mengiris hati bagaikan sembilu akan membekas selamanya...
Setiap tingkah laku kita akan tetap hidup dalam ruang-ruang memori selamanya...
Memang permohonan maaf di hari yang fitri bisa mengobati banyak hal, namun agaknya kita juga harus mengingat dan belajar satu hal bahwa semua itu TAK AKAN ADA ARTINYA jika kita mengulangi kesalahan yang sama...