Rabu, 02 September 2009

Hidup adalah Pilihan

Ada 2 buah bibit tanaman yang terdampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata ” Aku ingin tumbuh besar, aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini dan menjulangkan tunas-tunas ku diatas tanah yang keras ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku”.

Dan bibit itu tumbuh makin menjulang.

Bibit ke dua bergumam ” Aku takut. Jika kutanamkan akarku kedalam tanah ini, aku tidak tahu, apa yang akan kutemui dibawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keindahan tunasku akan hilang? Bukankah nanti tunasku akan terkoyak.

Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutiku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semua aman”.

Dan bibit itu menunggu, dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian seekor ayam mengais tanah, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaaplokkan segera.

Cobaan yang berkaitan dengan pilihan pasti ada dalam hidup ini. Pilihan antara baik buruk, antara bermanfaat atau tidak, antara cocok atau tidak dan pilihan-pilihan lain. Nasihat pun meluncur ” Hidup adalah pilihan, maka pilihlah sesuai hati nurani mu dengan bijak”. Memang seperti itulah hidup selalu ada pilihan dan selalu ada lakon-lakon yang harus kita perankan.

Namun, sering kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan dan kebimbang-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tidak mau melangkah, tidak mau menatap hidup.

Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak.

Sumber: buku motivasi net (Ir. Andi Muzaki, SH, MT)